MAKALAH AGAMA DAN FILSAFAT
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.

Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya
lah sehingga makalah dengan judul “
Agama Dan Filsafat ” ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, sebagai
pemenuhan salah satu tugas.
Penulis
sangat menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari
segi penulisan, susunan kata, maupun isi materi. Dengan ini penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini, serta sebagai jembatan ilmu yang berujung pada intelektualitas. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Penulis
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR.................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ........................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama ..................................................... 3
B. Pengertian Filsafat ..................................................... 5
C. Hubungan Antara Filsafat Dan
Agama ....................... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................... 9
B. Penutup ..................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………. 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Istilah filsafat dan agama mengandung
pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat dalam
cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh
sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait dengan
pengalaman. Filsafat mebahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang
diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama tidak selalu mengukur
kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak terlalu
memperhatikan aspek logisnya.
Agama dan filsafat memainkan peran yang
mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Orang-orang yang
mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami
secara benar bahwa pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan
antara keduanya dan juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya.
Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan
para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan
kesesuaian dua mainstream disiplin ini.
Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal
berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim,
dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak
"ternodai" dan "tercemari" mesti dipisahkan dari pembahasan
dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak
membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan
akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati
nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki.
Selain itu sebagian pemikir Islam juga
memandang bahwa antara agama dan filsafat terdapat keharmonisan. Sekitar abad
ketiga dan keempat hijriah, filsafat di dunia Islam mengalami perkembangan yang
cukup pesat, Abu Yazid Balkhi, salah seorang filosof dan teolog Islam,
mengungkapkan hubungan antara agama dan filsafat, berkata, "Syariat (baca:
agama) adalah filsafat mayor dan filosof hakiki adalah orang yang mengamalkan
ajaran-ajaran syariat. Ia yakin bahwa filsafat merupakan ilmu dan obat yang
paling ampuh untuk menyembuhkan segala penyakit kemanusiaan. Dari sana jelas
bahwasanya antara filsafat terdapat keterkaitan satu dengan yang lain.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah sebagai berikut:
a.
Pengertian Agama
b.
Pengertian Filsafat
c.
Hubungan antara
Filsafat dan Agama
BAB II
PMBAHASAN
A.
Pengertian Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga
disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan
kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari
bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain
untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin
religio dan berakar pada kata kerja religare yang berarti "mengikat
kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada
Tuhan.
Definisi lain menyebutkan bahwa kata
“agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gama” yang
berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia.
Dalam hal ini ternyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain
bagi orang-orang tertentu, selalu menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko
menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara
manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalam
ibadat-ibadat.
Kata religi berasal dari bahasa Latin
rele-gere yang berarti mengumpulkan, membaca. Agama me-mang merupakan kumpulan
cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu terkumpul dalam kitab suci
yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi berasal dari religare yang berarti
mengikat. Ajaran-ajaan agama memang mem-punyai sifat mengikat bagi manusia[13].
Seorang yang beragama tetap terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang
ditetapkan oleh agama.
Selain itu dalam al-Quran terdapat kata din yang menunjukkan pengertian agama. Kata din
dengan akar katanya dal, ya dan nun diungkapkan dalam dua bentuk yaitu din dan
dain. Al-Quran menyebut kata din ada me-nunjukkan arti agama dan ada
menunjukkan hari kiamat, sedangkan kata dain diartikan dengan utang. Dalam tiga
makna tersebut terdapat dua sisi yang berlainan dalam tingkatan, martabat atau
kedudukan. Yang pertama mempunyai kedudukan, lebih tinggi, ditakuti dan
disegani oleh yang kedua. Dalam agama, Tuhan adalah pihak pertama yang
mempunyai kekuasaan, kekuatan yang lebih tinggi, ditakuti, juga diharapkan
untuk memberikan bantuan dan bagi manusia.
Semua ungkapan di atas menunjuk kepada
pengerti-an agama secara etimologi. Namun
banyak pula di antara pemikir yang mencoba memberikan definisi agama.
Dengan demikian agama juga diberi definisi oleh berbagai pemikir dalam bentuk
yang berbagai macam. Dengan kata lain agama itu mempunyai berbagai pengertian.
Dengan istilah yang sangat umum ada
orang yang mengatakan bahwa agama adalah peraturan tentang cara hidup di
dunia ini.
Sidi Gazalba memberikan definisi bahwa
agama ialah kepercayaan kepada Yang Kudus, menyatakan diri berhubungan dengan
Dia dalam bentuk ritus, kultus dan permohonan dan membentuk sikap hidup
berdasarkan doktrin tertentu[15]. Karena dalam definisi yang dikemukakan di
atas terlihat kepercayaan yang diungkapkan dalam agama itu masih bersifat umum,
Gazalba mengemukakan definisi agama Islam, yaitu: kepercayaan kepada Allah yang
direalisasikan dalam bentuk peribadatan, sehingga membentuk taqwa berdasarkan
al-Quran dan Sunnah.
Muhammad Abdul Qadir Ahmad mengatakan
agama yang diambil dari pengertian din al-haq ialah sistem hidup yang diterima
dan diridhai Allah ialah sistem yang hanya diciptakan Allah sendiri dan atas
dasar itu manusia tunduk dan patuh kepada-Nya. Sistem hidup itu mencakup
berbagai aspek kehidupan, termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan
yang disyari`atkan Allah untuk manusia.
Sehingga jika dilihat dengan seksama
istilah-istilah itu ber-muara kepada satu fokus yang disebut ikatan. Dalam
agama terkandung ikatan-ikatan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap
manusia, dan ikatan itu mem-punyai pengaruh yang besar dalam kehidupan
sehari-hari. Ikatan itu bukan muncul dari sesuatu yang umum, tetapi berasal
dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Setelah diketahui pengertian
masing-masing dari agama dan filsafat, perlu diketahui apa sebenarnya hubungan
filsafat dan agama. Sehingga Harun Nasution mengemukakan adanya filsafat agama
yang memiliki pengertian berfikir tentang dasar-dasar agama menurut logika yang
bebas.
B.
Pengertian Filsafat
Salah satu kebiasaan dunia pene-litian
dan keilmuan, berfungsi bahwa penemuan konsep tentang sesuatu berawal dari
pengetahuan tentang satuan-satuan. Setiap satuan yang ditemukan itu
dipilah-pilah, dikelompokkan ber-dasarkan persamaan, perbedaan, ciri-ciri
tertentu dan sebagainya. Berdasarkan penemuan
yang telah diverivi-kasi itulah orang merumuskan definisi tentang
sesuatu itu.
Jadi ada benarnya saat Muhammad Hatta
dan Langeveld mengatakan "lebih baik pengertian filsafat itu tidak
dibica-rakan lebih dahulu. Jika orang telah banyak membaca filsafat ia akan
mengerti sendiri apa filsafat itu. Namun demikian definisi filsafat bukan
berarti tidak diperlukan. Bagi orang yang belajar filsafat definisi itu juga
diperlu-kan, terutama untuk memahami pemikiran orang lain.
Penggunaan kata filsafat pertama sekali
adalah Pytagoras sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada masa itu yang
menama-kan dirinya orang bijaksana, orang arif atau orang yang ahli ilmu
pengetahuan. Dalam membantah pendapat orang-orang tersebut Pytagoras mengatakan
pengetahuan yang lengkap tidak akan tercapai oleh manusia.
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa
Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari
bahasa Yunani.. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal
dari kata-kata (philia: Persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia: kebijaksanaan).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata
filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk
terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang
mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Semenjak semula telah terjadi perbedaan
pendapat tentang asal kata filsafat. Ahmad Tafsir umpamanya me-ngatakan
filsafat adalah gabungan dari kata philein dan sophia. Menurut Harun
Nasution kedua kata tersebut
setelah digabungkan menjadi philosophia dan diterjemah-kan ke dalam
bahasa Indonesia dengan arti cinta hikmah atau kebijaksanaan. Sedangkan orang Arab
memindahkan kata Yunani philosophia ke
dalam bahasa mereka dan menyesuaikannya dengan su-sunan kata bahasa Arab, yaitu
falsafa dengan pola fa`lala. Dengan demikian kata benda dari falsafa itu adalah
falsafah atau filsaf.
Dalam al-Quran kata filsafat tidak ada,
yang ada hanya adalah kata hikmah. Pada umumnya orang mema-hami antara hikmah
dan kebijaksanaan itu sama, pada hal sesungguhnya maksudnya berbeda. Harun
Hadiwijono mengartikan kata philosophia dengan mencintai kebijaksa-naan,
sedangkan Harun Nasution mengartikan dengan hikmah[7]. Kebijaksanaan biasanya
diartikan dengan peng-ambilan keputusan berdasarkan suatu pertimbangan
terten-tu yang kadang-kadang berbeda dengan peraturan yang telah ditentukan.
Adapun hikmah sebenarnya diungkapkan pada sesuatu yang agung atau suatu
peristiwa yang dahsyat atau berat. Namun dalam konteks filsafat kata
philosophia itu merupakan terjemahan dari love of wisdom.
Dari pengertian kebahasaan itu dapat
dipahami bahwa filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan. Tetapi pengertian
itu belum memberikan pemahaman yang cukup, karena maksudnya belum dipahami
dengan baik. Pemahaman yang mendasar tentang filsafat diperoleh melalui
pengertian. Karena berbagai pandangan dalam melihat sesuatu menyebabkan pandangan pemikir tentang filsafat juga
berbeda. Oleh sebab itu, banyak orang mem-berikan pengertian yang berbeda pula
tentang filsafat.
Diantara tokoh yang memberikan definisi
tentang filsafat diantaranya adalah: Immanuel Kant (1724-1804 M) salah seorang
filosof Jerman mengatakan filsafat adalah pengetahuan yang men-jadi pokok
pangkal pengetahuan yang tercakup di dalam-nya empat persoalan : yaitu Apa yang
dapat diketahui, Jawabnya : Metafisika. Apa yang seharusnya diketahui ?
Jawabnya : etika. Sampai di mana harapan kita ? Jawabnya :Agama. Apa manusia
itu? Jawabnya Antropologi.
Jujun
S Suriasumantri mengatakan bahwa filsafat menelaah segala persoalan yang
mungkin dapat dipikirkan manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir,
filsafat mempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab suatu per-soalan, filsafat mulai
merambah pertanyaan lain. Sedangkan Ir. Poedjawijatna mengatakan filsafat
adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala
sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Kattsoff mengemukakan bahwa filsafat,
ialah ilmu pengetahuan yang dengan cahaya kodrati akal budi mencari sebab-sebab
yang pertama atau azas-azas yang
tertinggi segala sesuatu. Filsafat dengan kata lain merupakan ilmu pengetahuan
tentang hal-hal pada sebab-sebabnya yang pertama termasuk dalam ketertiban
alam. Selain itu filsafat merupakan ukuran pertama tentang nilai filsafat itu
dan berakhir dengan kesimpulan yang jika dihubungkan kembali dengan pengalaman
hidup sehari-hari, serta peristiwa-peristiwanya menjadikan
pengalaman-pengalam-an serta peristiwa itu lebih bermakna yang menyebabkan kita
lebih berhasil menanganinya.
Itulah di antara definisi yang
dikemukakan oleh filosof. Perbedaan itu definisi itu menimbulkan kesan bahwa
perbedaan itu disebabkan oleh berbagai faktor, seperti latar belakang sosial, politik, ekonomi dan seba-gainya. Jika
disadari, perbedaan pendapat itu adalah wajar karena perkembangan ilmu
pengetahuan menimbulkan berbagai spesialisasi ilmu yang sesungguhnya terpecah
dari filsafat pada umumnya dan selanjutnya muncullah filsafat khsus, seperti
filsafat politik, filsafat akhlak, filsafat agama dan sebagainya.
Dengan demikian diketahui betapa luasnya
lapangan filsafat. Tetapi walaupun telah terjadi berbagai pemikiran dalam
filsafat yang berbentuk umum menjadi berbagai bidang filsafat tertentu,
ternyata ciri khas filsafat itu tidak hilang, yaitu pembahasan bersikap
radikal, sistematis, universal dan bebas. Dengan demikian dalam pembahasan ini
semua prinsip itu memang diperlukan dalam mengkaji berbagai hal tentang agama
sehingga hasil itu disebut filsafat agama.
C.
Hubungan Antara Filsafat dan Agama
Terdapat beberapa asumsi berkaitan
dengan hubungan filsafat dengan agama. Asumsi tersebut didasarkan pada anggapan
manusia sebagai makhluk budaya. Asumsi pertama, manusia sebagai makhluk budaya
mampu berspekulasi dan berteori filsafat yang akan menentukan kebudayaannya,
bahkan sampai sadar dan jujur mengakui kenyataan Tuhan dan ajaran agama.
Asumsi kedua kita ini diciptakan oleh
Tuhan sebagai suatu yang potensial dapat diperbaiki, diperindah, dan diperkaya,
sehingga hidup dan penghidupan ini lebih dapat meningkat harganya untuk
dihidupi dan dinikmati. Hubungan agama dengan filsafat dapat dinyatakan sebagai
berikut:
a.
Agama adalah
unsur mutlak dan sumber kebudayaan, sedangkan filsafat adalah salah satu unsur
kebudayaan
b.
Agama adalah
ciptanya Tuhan, sedangkan filsafat hasil spekulasi manusia
c.
Agama adalah
sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science) filsafat
menguji asumsi-asumsi science
d.
Agama
mempercayai akan adanya kebenaran dan kenyataan dogma-dogma agama, sedangkat
filsafat tidak mengakui dogma-dogma sebagai kenyataan tentang kebenaran.
Adapun tabel hubungan Filsafat dan agama sebagai
berikut:
Agama
|
Filsafat
|
1.
Agama
adalah unsur dan sumber kebudayaan
2.
Agama
adalah ciptaan Tuhan
3.
Agama
adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science)
4.
Agama
mendahulukan kepercayaan dari pemikiran
5.
Agama
mempercayai akan adanya kebenaran dan khayalan dogma-dogma agama
|
1.
Filsafat
salah satu unsur kebudayaan
2.
Filsafat
adalah hasil spekulasi manusia
3.
Filsafat
menguji asumsi asumsi science, dan science mulai dari asumsi tersebut
4.
Filsafat
mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran
5.
Filsafat
tidak mengakui dogma-dogma agama sebagai kenyataan tentang kebenaran.
|
Dengan
memperhatikan spesifikasi dan sifat-sifat di atas, terlihat jelas bahwa peran
agama terhadap filsafat ialah meluruskan filsafat yang spekulatif kepada
kebenaran mutlak yang ada pada agama. Sedangkan peran filsafat terhadap agama
ialah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran
yang kritis dan logis. Hal ini didukung pernyataan yang menyatakan bahwa
filsafat yang sejati itu adalah terkandung dalam agama.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari penjelasan uraian di atas tentang
filsafat dan agama, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.
Pengertian
filsafat sebagaimana mengutip yang disampaikan Ir. Poedjawijatna mengatakan
bahwa filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya
bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Artinya filsafat merupakan
proses pencarian kebenaran yang dilandaskan pada kemampuan akal.
b.
Pengertian agama
sebagai yang jelaskan oleh Sidi Gazalba bahwa agama ialah kepercayaan kepada
Yang Kudus, menyatakan diri berhubungan dengan Dia dalam bentuk ritus, kultus
dan permohonan dan membentuk sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.
c.
Hubungan
filsafat dengan agama adalah saling terkait. Kaitan antara filsafat dan agama
adalah agama merupakan salah satu objek kajian filsafat dalam rangka memperoleh
kebenaran yang bersumber dari akal (logika).
B.
Penutup
Demikian makalah ini disusun, tentu
masih banyak kekurangannya. Untuk itu kritik dan saran senantiasa penulis
harapkan demi perbaikan penyusunan makalah-makalah yang lain di masa mendatang.
Semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi semua, khususnya pagi
penulis. Amien.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Abu Hayyan
Tauhidi, al-Imta' wa al-Muânasah, jilid pertama, bagian kedua.
2.
Abul Hasan
'Amiri, al-Amad 'ala al-Abad.
3.
Ahmad Tafsir,
Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, Bandung : Rosdakarya,
1994.
4.
H.A. Dardiri,
Humaniora, Filsafat dan Logika, Jakarta : Rajawali Press, 1986.
5.
Harun
Hadiwijono, Sari-Seri Sejarah Filsafat Barat I, Yogyakarta: Kanisius, 1991.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar